Thursday, April 28, 2016

[Review] Eye in the Sky

Eye in the Sky ambu tonton di saat-saat terakhir, saat sudah menjelang pergantian lakon menjadi Perang Dulur


Credit to Is Yuniarto

Jaman dahulu perang dilakukan berhadap-hadapan dengan raja/panglima/jendral maju paling dahulu. Jaman sekarang, kalau perlu bahkan prajurit pun tak harus menghadapi musuh. Cukup memantau dari kotak penuh peralatan di darat, jauh dari sasaran, tak beresiko tertembak.

Eye in the Sky memaparkan itu.

Colonel Powell memantau di ruang bawah tanah, Lieutnant General Benson dari Whitehall, UK Foreign Secretary dari Singapura, sambil diare karena alergi udang, dan US Foreign Secretary dari Beijing sambil main pingpong...



Jadi alkisah, Powell menemukan bahwa buruannya selama 6 tahun, Susan Helene Danford, berada di Kenya,  sudah masuk Islam radikal, dan sepertinya sedang merencanakan sesuatu. Kisah terus berjalan hingga ditemukan bahwa mereka sedang merencanakan bom bunuh diri. Ada dua kewarganegaraan Inggris dan satu kewarganegaraan Amerika yang terlibat dalam rencana ini.

Misi 'temukan' berubah menjadi 'bunuh'. Dengan adanya rudal Reaper, korban bisa dikurangi menjadi minimal, hanya isi rumah sasaran, dan adanya kemungkinan luka-luka rakyat sipil di sekeliling rumah itu. Kalau terlambat, ada kemungkinan mereka akan meledakkan bom bunuh diri di pusat perbelanjaan atau sejenisnya, dengan korban jauh lebih banyak.

Misi sederhana itu menjadi rumit tatkala seorang gadis memasuki daerah sasaran dan melakukan pekerjaan sehari-harinya: menjual roti.



Langsung jatuh hati pada Alia Mualim (Mo'Allim) ini: suka main hulahup--dan ia yang tertangkap kamera pertama kali mereka mengarahkan pada daerah rumah itu--belajar matematika (ayahnya Musa, punya bengkel sepeda, menyuruhnya terus belajar, padahal sepertinya perempuan tidak diberi kesempatan belajar di daerah ini). Dengan lugu bertanya pada ayahnya, saat ia dimarahi karena bermain hulahup saat ada orang lain di rumah, dan ayahnya berkata, kau boleh bermain di hadapanku. Uuuuuh, pengen peluk keluarga ini!

Ibunya, Fatima, membuat roti di rumah. Rumah mereka itu berada di belakang rumah sasaran tembak. Karena rumah sasaran itu menghadap jalan yang lebih besar, maka Alia berjualan roti buatan ibunya selalu di pinggir rumah sasaran: ada meja di sana, ditutupi taplak dan roti digelar begitu saja. Emang ya, roti-roti di Afrika mah keras dan bisa diletakkan di mana saja, buat nampol orang juga bisa xDD

Film berkutat di sana: bagaimana membuat korban seminimal mungkin, dan itu berarti si gadis penjual roti harus disingkirkan secepatnya dari situ...


...dan menurut sutradara Gavin Hood, 30% operator drone militer US harus menjalani perawatan post-traumatic stress disorder...



Ada ironi disampaikan, saat Frank Benson menuju Whitehall, ia mampir membeli boneka dulu untuk anaknya, dan saat ia sudah hampir masuk ruangan, anaknya menelepon mengatakan kalau jenis bonekanya salah... Fanfiksi? Kebayang andaikan saja Alia tersadar dan di sampingnya ada sebuah boneka, paket dari Inggris... Hiks!

Film ini merupakan film terakhir dengan penampilan Alan Rickman (masih ada Alice, tapi di film itu ia hanya muncul suaranya).


Dari http://www.the-leaky-cauldron.org/2016/03/29/watch-alan-rickmans-final-appearance-in-eye-in-the-sky/ :



Never tell a soldier that he does not know the cost of war...

Hiks...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home